Kendal – Pemanfaatan limbah organik di Lapas Terbuka Kelas IIB Kendal terus dikembangkan melalui berbagai program pembinaan kemandirian. Selain diolah menjadi kompos, sebagian bahan organik juga dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Program ini tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan bagi warga binaan, Sabtu (27/06/2026).
Di sebuah rumah maggot berukuran 4 x 15 meter, warga binaan mempelajari seluruh tahapan budidaya secara mandiri. Mulai dari pemeliharaan indukan lalat BSF, proses peneluran, penetasan telur, hingga pembesaran larva pada media box cor permanen yang telah disiapkan di dalam rumah budidaya.

Berbeda dengan budidaya pada umumnya yang mendatangkan telur atau bibit dari luar, Lapas Terbuka Kendal mengembangkan siklus produksi secara mandiri. Telur maggot dihasilkan dari koloni lalat BSF yang dipelihara di lingkungan lapas, kemudian dipindahkan ke media pembesaran hingga siap dipanen.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan larva, warga binaan memanfaatkan berbagai bahan organik yang tersedia di lingkungan lapas, seperti sisa sayuran, buah-buahan, hingga telur yang gagal fertil dari unit penetasan unggas. Bahan-bahan tersebut diolah sebagai pakan sehingga mampu menghasilkan maggot dengan kandungan protein tinggi.

Kepala Lapas Terbuka Kendal, Nu'man Fauzi, mengatakan budidaya maggot merupakan salah satu inovasi pembinaan kemandirian yang memadukan pelatihan keterampilan dengan optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan lapas.
"Kami ingin warga binaan memperoleh keterampilan yang benar-benar aplikatif. Budidaya maggot memiliki prospek yang baik karena seluruh prosesnya dapat dipelajari di sini, mulai dari pembiakan hingga panen. Selain menjadi bekal setelah bebas, hasil budidaya juga memberikan nilai tambah bagi program pembinaan yang ada di Lapas Terbuka Kendal, " ujar Nu'man.
Ia menambahkan, pengembangan budidaya maggot menjadi bagian dari sistem pembinaan yang saling terintegrasi dengan unit pertanian, peternakan, perikanan, penetasan unggas, dan produksi kompos yang telah berjalan di Lapas Terbuka Kendal.
Sementara itu, Kasi Binadik dan Giatja, Iwan Kusmawan, menjelaskan bahwa warga binaan dilibatkan dalam seluruh siklus budidaya agar memahami proses produksi secara menyeluruh, bukan hanya saat panen.
"Budidaya ini kami rancang sebagai pembelajaran dari hulu hingga hilir. Warga binaan belajar memelihara lalat BSF untuk menghasilkan telur, membesarkan larva di media box cor, mengatur pemberian pakan, hingga proses panen. Dengan demikian, mereka memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang utuh apabila ingin mengembangkan usaha budidaya maggot setelah kembali ke masyarakat, " jelas Iwan.
Menurutnya, hasil panen maggot memiliki beragam manfaat dan nilai jual. Maggot dapat dipasarkan dalam bentuk maggot hidup maupun maggot kering, sesuai kebutuhan pasar. Sebagian hasil panen juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ayam pada unit peternakan internal Lapas Terbuka Kendal, sehingga mampu mendukung keberlangsungan program pembinaan berbasis kemandirian.
Melalui pengembangan budidaya maggot, Lapas Terbuka Kendal terus memperkuat pembinaan yang berorientasi pada keterampilan kerja dan kewirausahaan. Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal, warga binaan tidak hanya memperoleh pengalaman praktik, tetapi juga memahami bahwa sebuah usaha dapat dibangun dari pengelolaan bahan-bahan sederhana yang memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan baik.
(Humas LPT)

6 days ago
21

















































![[VIDEO] Siapa ‘kait’ seluar dalam orang di Jempol?](http://www.kosmo.com.my/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-10-at-9.27.15-PM.jpeg)