Parah.! Proyek P3A-TGAI Hiang Tinggi Sitinjau Laut Dominan Batu Kapur, Warga: Nyaris Tak Ada Pengawasan

2 days ago 6

KERINCI, JAMBI — Sorotan terhadap proyek P3A–TGAI di Kabupaten Kerinci kembali menuai kritikan tajam. Kali ini giliran pekerjaan di Desa Hiang Tinggi, Kecamatan Tanah Cogok, yang menjadi pusat perhatian setelah hasil pantauan di lapangan menampilkan sederet kejanggalan yang semakin memperkuat kritik publik terhadap mutu program tersebut.

Di lokasi terlihat bahwa material yang digunakan tampak jauh dari standar ideal. Batu yang dipasang didominasi batu kapur dan batu gunung yang dikenal tidak sekuat batu kali. Kondisi ini membuat masyarakat mempertanyakan apakah material tersebut layak digunakan untuk konstruksi saluran irigasi yang akan menahan tekanan air secara terus–menerus.

Kualitas adukan semen juga disorot tajam. Komposisinya tampak didominasi unsur pasir, sehingga menimbulkan kesan seolah pekerjaan dilakukan dengan perbandingan campuran yang tidak sesuai. Para warga yang menyaksikan pengerjaan tersebut menilai bahwa adukan dengan kadar pasir tinggi berpotensi membuat ikatan batu menjadi jauh lebih rapuh dan mudah tergerus air.

Kritik yang paling keras muncul pada kondisi lantai dasar saluran. Lantai tampak sangat tipis dan terlihat seperti dikerjakan sekadarnya tanpa standar ketebalan yang memadai. Bagian–bagian tertentu bahkan tampak tidak padat dan langsung terlihat retak halus meski baru selesai dikerjakan. Masyarakat menilai pekerjaan tersebut “asal jadi” dan tidak menggambarkan kualitas program yang menggunakan anggaran negara.

“Sangat disayangkan kalau pekerjaan seperti ini dibiarkan. Kalau ini diterjang air kuat sedikit saja, bisa jebol. Ini uang negara, masa dipakai buat kerjaan seperti ini, ” ujar salah seorang warga Hiang Tinggi.

Tidak berhenti sampai di situ, masyarakat juga mempertanyakan mekanisme pengawasan karena hasil pekerjaan tidak mencerminkan adanya kontrol mutu yang ketat. Publik mendesak agar pihak satuan kerja terkait segera turun meninjau ulang kegiatan di Hiang Sakti, mengingat temuan yang terlihat secara kasat mata sudah cukup membuat kepercayaan masyarakat menurun tajam.

Masyarakat menilai bahwa situasi seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Mereka khawatir jika pola pengerjaan semacam ini dibiarkan terus berulang, P3A–TGAI di Kerinci hanya akan menjadi program yang menghabiskan anggaran tanpa memberikan manfaat maksimal kepada para petani.

"Mungkin ini dampak dari mekanisme yang mengatasnamakan kelompok tani, tapi yang terjadi bukan kelompok tani, " ungkap warga.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SDA BWSS VI maupun satuan kerja yang menangani program P3A–TGAI belum memberikan keterangan resmi terkait temuan di lokasi.(son)

Read Entire Article
Pertanian | | | |